Sejarah

Sejarah Gereja

SEJARAH SINGKAT JEMAAT FILIAL GKI SILOAM WAENA

filial
CATATAN:
  1. 1. Ditetapkan sebagai jemaat definitif pada tanggal 26 November 1996 dalam sidang Klasis GKI Sentani di Jemaat Fetra Ifale.

  2. 2. Pada tanggal 5 Desember 1996 dilaksanakan ibadah syukur jemaat dan menetapkan sebagai Hut Pertama Jemaat GKI Siloam Waena dengan pertimbangan bahwa sebelum ditetapkan sebagai jemaat definitif sudah ada pembentukan struktur majelis jemaat, pembentukan unsur-unsur jemaat, dan dalam status bakal jemaat sudah dilaksanakan sidang-sidang jemaat yang merupakani sidang jemaat pertama Jemaat GKI Siloam Waena.

  3. 3. Dalam perkembangannya dengan pembahasang yang sangat a lot dalam berapa kali sidang jemaat, maka ditetapkan tanggal 05 Desember 1996 sebagai titik "0".

  4. 4.Dengan menghilangkan momen peletakan batu pertama sampai dengan penetapan sebagai jemaat definitif, maka kita telah menghilangkan sejarah perjalanan jemaat dan dokumen jemaat GKI Siloam Waena.

SEJARAH SINGKAT GKI SILOAM WAENA

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa di dalam Yesus Kristus yang adalah Kepala Gereja atas kasih dan penyertaan serta perkenanNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Sejarah Jemaat GKI Siloam Waena ini.

Sejarah Jemaat GKI  Siloam ini dimaksudkan untuk memberikan  suatu gambaran tentang perjalanan Jemaat GKI Siloam Waena baik sebelum didirikan maupun setelah didirikan sampai sekarang ini, dengan maksud agar anggota Jemaat dan semua yang berkepentingan dapat mengetahui dengan baik perjalanan Jemaat ini serta dapat memotivasi setiap anggota jemaat untuk turut berperan dalam pengembangan dan pembangunan persekutuan Jemaat.

Dalam penulisan Sejarah  ini , penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan masih banyak kegiatan/perkembangan yang tidak ditulis, karena tidak semuanya dicatat dengan baik.

Penulis mengharapkan  bahwa dengan adanya sejarah ini, dapat menjadi acuan bagi para Presbyter dan anggota jemaat untuk pengembangan jemaat Siloam pada waktu yang akan datang serta dapat memotivasi generasi berikutnya untuk dapat berperan serta dalam pelayanan dan pembangunan jemaat ini.

Semoga Tuhan Yesus Kristus yang adalah kepala gereja senantiasa memberkati perjalanan jemaat ini, sekarang dan selamanya. Amin

 

Waena , 01 Januari  2018

           Penulis,

 

  1. F. D. SITORUS.

 

SEJARAH SINGKAT

JEMAAT GKI SILOAM WAENA

                                                  

  1. Pendahuluan

 Pada akhir tahun 1987 Perumnas II Waena secara resmi mulai ditempati oleh para penghuninya, namun baru sebagian kecil bangunan/rumah yang sudah ditempati karena pada saat itu lampu listrik belum ada (belum masuk).

 

Pada saat itu belum ada bangunan diluar Perumnas II kecuali pabrik penggilingan batu “Karsa Tama” di belakang Perumnas II dan pabrik penggilingan batu “Benteng Mas” di jalan Kamp Wolker, kompleks SPG Taruna Bhakti, dan pemukiman seberang kali Kamp Wolker. Sedangkan Perumnas III, Perumahan Dosen Uncen, Kampus Uncen, Perumahan Yotefa Grand, serta bangunan di sepanjang jalan SPG dan jalan Kamp Wolker belum ada, sehingga pelayanan saat itu hanya meliputi Perumnas II dan seberang kali dan baru pada tahun 1990 Perumnas III mulai  dibangun dan pada tahun 1992 mulai ditempati oleh para penghuninya.

 

Pada awal tahun 1988, jemaat GKI Petrus Waena telah melakukan pelayanan di Perumnas II dan Kampung Pokouw seberang kali dan memilih 2 (dua) orang anggota Majelis Jemaat dari Perumnas II dan 1 (satu) orang dari seberang kali yaitu:

  1. 1. Pnt. S. Serontouw (Perumnas II)
  2. 2. Syms. Rotje M. Pojoh/Sitorus (Perumnas II)
  3. 3. Pnt. Anete Ongge (Seberang kali)

 

Dan itulah anggota Majelis Jemaat pertama di Perumnas II dan sekitarnya  dan  Seberang kali   yang merupakan   wilayah pelayanan Jemaat GKI Siloam Waena.

Kemudian pada tahun 1989 ada penambahan 2 (dua) orang anggota Majelis Jemaat di  Perumnas II yaitu :

  1. 1. Pnt. Yan Mogelea
  2. 2. Syms. Alfons Ongge

Anggota Majelis ini bertugas sampai dengan tahun 1990 di Perumnas II, Perumnas III dan Seberang Kali.

Pada tahun 1990 diadakan pemilihan anggota Majelis di jemaat Petrus Waena untuk periode tahun 1990-1994

 

  1. Berdirinya Jemaat GKI Siloam Waena

Awal berdirinya Jemaat Filial yang sekarang ini Jemaat GKI Siloam Waena adalah merupakan wacana yang dimunculkan anggota jemaat dan anggota Majelis Jemaat Lingkungan 10 (Perumnas II) dan anggota jemaat Lingkungan 11 (Seberang kali dan Perumnas III) dari Jemaat GKI Petrus Waena.

Wacana ini timbul dengan pertimbangan :

  1. 1. Perlu adanya pngembangan/pemekaran jemaat di wilayah Waena, mengingat wilayah Waena cukup luas.
  2. 2. Mulai munculnya aliran-aliran kepercayaan di Perumnas II Waena.
  3. 3. Sarana transportasi bagi anggota jemaat yang bermukim di Perumnas II dan Perumnas III ke Gereja Petrus Waena pada saat itu sangat sulit, sehingga dikuatirkan  akan banyak anggota jemaat yang beribadah ke gereja lain  (Gereja yang mudah dijangkau).

 

  1. 4. Kapasitas gedung Gereja Petrus Waena    saat itu sudah tidak memadai,  eningat jumlah anggota jemaat semakin banyak seiring dengan perkembangan pembangunan dan penduduk di Wilayah Waena.

Berdasarkan hal-hal tersebut diiatas maka dalam Sidang Jemaat GKI Petrus Waena pada tanggal 30-31 Maret 1992 disepakati pembentukan Jemaat Filial di wilayah Perumnas II dan III, namun selama tahun 1992 belum ada realisasi dari Sidang tersebut karena pada waktu yang bersamaan (dalam Sidang Jemaat tersebut) dibentuk pula Paniitia Pembangunan Gedung Gereja Petrus Waena yang kepanitiaannya dan pelaksanaannya diserahkan kepada jemaat Lingkungan 10 Perumnas II yang diketuai oleh Bapak Drs. T. Mandosir dan Sekretaris Bapak F.D. Sitorus, SE, sehingga Jemaat Lingkungan 10 belum focus untuk menindaklanjuti hasil Sidang Jemaat  tahun 1992 dimaksud.

Pada Sidang Jemaat GKI Petrus Waena tahun 1993, sebagai tindak lanjut dari hasil Sidang tahun 1992 maka dibentuklah Tim Pengadaan Tanah untuk   lokasi  pembangunan gedung gereja yang beranggotakan 4 (empat) orang yaitu ::

  1. 1. Bpk. Costan Modouw
  2. 2. Bpk. S. Serontouw
  3. 3. Bpk. Neles Modouw
  4. 4. Bpk. F.D. Sitorus

 

                 Sementara Panitia Pembangunan Gedung Gereja Petrus Waena tetap melaksanakan tugasnya untuk membangun gedung Gereja Petrus Waena.

 Dalam pelaksanaannya Panitia Pembangunan mengalami kendala untuk melanjutkan pembangunan dan baru Konsistori yang sempat dibangun dan untuk melanjutkan pembangunan badan gereja yang harus dibongkar total , mendapat hambatan dari warga jemaat di Waena Kampung   karena menurut   warga jemaat di waena kampung

 

bahwa Gedung itu memiliki nilai sejarah yang dalam pembangunannya merupakan suatu perjuangan dari para pendahulu dimana pada saat itu belum ada bantuan-bantuan dari pemerintah seperti saat ini.

 Jadi pembangunannya dilakukan dengan swadaya warga jemaat saat itu.

Dengan kondisi yang seperti itu, karena sudah ada keputusan Sidang Jemaat untuk pembentukan Jemaat Filial dan juga Tim Pengadaan Tanah sudah dibentuk, maka Panitia Pembangunan terpaksa menghentikan kegiatan dan mulai merencanakan  pembangunan Gedung Gereja Filial.

 

Pada bulan Juni 1993, Tim Pengadaan Tanah untuk lokasi pembangunan Gereja Filial mulai bergerak dan menghubungi Bapak James Modouw sebagai pemilik tanah dan Bapak James Modouw merespon baik rencana pembentukan Gereja Filial sesuai dengan penyampaian dari Tim dan beliau justru menghibahkan sebidang tanah untuk lokasi pembangunan Gedung Gereja Filial dengan memberikan pilihan atas 2 (dua) lokasi yang ditawarkan  yaitu lokasi yang sekarang bangunan Mesjid dan lokasi yang ada sekarang ini, dan Tim sepakat untuk memilih lokasi yang ada sekarang ini.

Dengan telah disepakatinya lokasi untuk pembangunan Gedung Gereja Filial, maka pada tanggal 05 September 1993 Jemaat Filial di wilayah Perumnas II dan III secara resmi dibentuk yang ditandai dengan Peletakan Batu Pertama oleh Ketua Klasis GKI Sentani Grj. Dr. J. Manapa dan disaksikan oleh Pelayan Jemaat GKI Petrus Waena Pdt. Y.P. Yotleli, STh, Ondoafi Waena Bapak Ramses Ohee dan Kepala-kepala Suku yang ada di Waena, serta Kepala Pemerintahan Kecamatan Sentani Bapak Drs. Rumadas.

 

Dengan telah diresmikannya pembentukan/pendirian Jemaat Filial, Maka Jemaat Lngkungan 10 dan 11 mengadakan rapat pembentukan Panitia Pembangunan Gedung Gereja yang disebut “Panitia Lokal Pembangunan Gedung Gereja Filial” dengan susunan personil sebagai berikut :

Ketua                        : Bpk. D. Sudjarwo

Wakil Ketua            : Bp. S. Seontouw

Sekretaris                : Bpk. F.D.Sitorus

Wakil Sekretaris    : Bpk. A. Titersoleh

Bendahara               : Bpk. Sapteno

Seksi-Seksi               :

  1. 1. Seksi Pembangunan

Koordinator       : Bpk. T. Mandosir

  1. 1.Bpk. Jefri Manongko
  2. 2. Bpk. A.J. Tuanakotta
  3. 3. Bpk. A. Somalinggi
  4. 4. Bpk. Arnold Palandung
  5. 5. Bpk. J. Taroreh
  6. 6. Bpk. E. Kalase
  7. 7. Bpk. N. Nababan
  8. 8. Bpk. M. Duma
  9. 9. Bpk. M. Karamang
  10. 10. Bpk. A. Persulessi
  11. 11. Bpk. D. Saragih

 

  1. Seksi Usaha Dana

                  Koordinator       :

                  Anggota                 :

  1. 1. Bpk. M. Nainggolan
  2. 2. Bpk. D. Sinaga
  3. 3. Bpk. J. Tandibulo
  4. 4. Bpk. V. Pangemanan
  5. 5. Bpk. B. Wahongan
  6. 6. Bpk. M. Mansnandifu
  7. 7. Bpk. H. Rotty
  8. 8. Bpk. S. Sibarani
  9. 9. Bpk. M. Sembiring
  10. 10. Bpk. S. Bela

 

Pembangunan Gedung Gereja Filial dimulai pada tanggal 05 Oktober 1993 dengan ukuran 7 m x 15 m diatas tanah seluas 75 m x 17 m yang merupakan hibah dari Bapak James Modouw.

Pembangunan Gedung Gereja Sementara, berlangsung selama 2 (dua) bulan dimana pada tanggal 05 Desember 1993 diresmikan penggunaannya sekaligus merupakan Ibadah Pertama Jemaat setelah ditetapkan sebagai Jemaat Filial.

 

  1. Proses Pembangunan Gedung Gereja Filial

Pembangunan Gedung Gereja Filial yang rencana awal dibangun dengan bahan  kayu  dan dinding gabah dan memang tidak ada perencanaan bagunan , tidak pakai gambar dan tidak ada  RAB.

Jadi pekerjaan berjalan sesuai dengan bahan yang ada karena jemaat menginginkan untuk sesegera mungkin ada Gedung Gereja karena selama Gedung Gereja belum selesai , jemaat masih tetap beribadah di Jemaat Petrus Waena.

Waktu terus berjalan dan Panitia Pembangunan terus bekerja siang dan malam.

Bahan bangunan selalu saja ada dari para donatur dan pada umumnya dari luar anggota Jemaat,  dari para pejabat-pejabat yang ada baik di Kabupaten Jayapura, Provinsi, para pengusaha, PLN Cabang Jayapura, Kejaksaan Negeri Jayapura, PDAM Kabupaten Jayapura, bahkan dari Kodam XVII Cenderawasih.

 

Dari rencana awal hanya menggunakan tiang-tiang kayu dan dinding dari gabah akhirnya berubah menjadi beton dan anehnya pondasi dikerjakan setelah tiang-tiang berdiri.

Dengan tersedianya bahan-bahan bangunan, maka Panitia pun berusaha untuk bekerja keras agar pembangunan gedung Gereja segera selesai dan dapat digunakan.

 Target Panitia bahwa pada tanggal 05 Desember 1993 sudah harus diresmikan dan jemaat  boleh  mulai beribadah dan  perayakan Natal di Jemaat Filial. Dengan target tersebut ,

Panitia harus bekerja extra keras bahkan 3(tiga) hari sebelum peresmian, Panitia dan semua anggota jemaat bekerja sampai pagi, dan yang paling berat adalah pada tanggal 04 Desember 1993 (satu hari sebelum peresmian) karena flapon belum terpasang dan begitu juga lampu-lampu ditambah lagi masih ada tanggung jawab Panitia Pembangunan Gedung  Gereja Petrus yang belum selesai   yaitu pengecoran lantai Konsistori yang sudah sempat dibangun, dan permintaan   dari   Jemaat   Petrus   harus  diselesaikan  pengecorannya malam itu juga  baru bisa diresmikan Gereja Filial.

Sehingga Panitia terpaksa menyelesaikan pengecoran lantai pada malam itu juga. Instalasi listrik dan penyambungan aliran listrik dari jalan besar  dan balon-balon lampu sudah disiapkan dan diselesaikan oleh PLN Cabang Jayapura, begitu pula instalasi air minum sudah diselesaikan oleh PDAM Kabupaten Jayapua.

 

Sehingga pekerjaan yang harus diselesaikan pada malam itu adalah penyelesaian pemasangan dan pengecatan flapon, pembersihan lokasi, dan pemasangan papan nama Gereja.

 

Dari volume pekerjaan yang begitu berat, penulis sangat meragukan bahwa akan terjadi peresmian pada besok harinya. Tetapi berkat kesungguhan, keuletan, serta semangat dari seluruh anggota jemaat dan  campur tangan Tuhan dalam seluruh kegiatan maka peresmianpun dapat berlangsung dengan baik, lancar dan bangunan Gedung Gereja siap dipakai.

Yang menjadi kendala saat itu adalah tempat duduk untuk presmian dan untuk ibadah-ibadah selanjutnya karena pada saat itu belum ada kursi sewa seperti sekarang ini.

Jadi Panitia terpaksa mengumpulkan  kursi-kursi dari rumah-rumah anggota jemaat dan itulah yang digunakan sampai ada bangku yang disiapkan Panitia dan itu berlangsung selama  (enam) bulan.

 

  1. Perjalanan Jemaat Filial

 

Dalam perjalan Jemaat Filial bukanlah tidak menghadapi kendala, karena pada waktu itu boleh dikatakan bahwa baik di Klasis Sentani maupun di Klasis Jayapura tidak ada pembentukan jemaat baru (Jemaat Filial) karena hampir semua jemaat-jemaat pada saat itu masih berpikir soal pendapatan Jemaat dan jumlah anggota jemaat yang akan berkurang, dan Jemaat Filial inilah yang membuka wawasan jemaat-jemaat yang ada di Klasis Jayapura dan Klasis Sentani.

Selama 3 tahun keberadaan Jemaat Filial tidak diakui oleh Klasis dan pada  suatu waktu Ketua Klasis lagi di dalam perjalanan dan singgah beribadah di jemaat Filial dan dengan tidak direncanakan, setelah selesai beribadah dilanjutkan dengan pertemuan.

 

Dan pada Pertemuan itu Ketua Klasis menyampaikan permohonan maafnya karena selama itu tidak mengakui keberadaan jemaat Filial ini, tapi ketua Klasis berjanji sebelum turun dari jabatan Ketua Klasis akan menetapkan Jemaat Filial menjadi Jemaat, pada hal saat itu masih  Filial yang artinya bahwa  Majelis Jemaat harus berusaha untuk meloloskan penetapkan Jemaat Filial menjadi Bakal Jemaat pada  Raker Klasis   dan menjadi jemaat penuh pada Sidang Klasis dalam  waktu 1(satu) tahun.

Raker Klasis akan berlangsung pada bulan Mei 1996 dan Sidang Klasis pada bulan Nopember 1996. Hal yang utama yang harus diusahakan oleh Majelis adalah bagaima mendapat peretujuan dari Jemaat Induk. Sehingga Majelis harus melakukan lobi-lobi agar ada pengakuan pada saat Raker dan pada saat Sidang Klasis.

Dalam waktu yang singkat Majelis mempersiapkan bahan laporan untuk Raker Klasis pada bulan Mei 1996 dan berhasil ditetapkan menjadi Bakal Jemaat.

Setelah ditetapkan menjadi Bakal Jemaat, Majelis harus mempersiapkan laporan untuk Sidang Klasis yang akan dilaksanakan pada bulan Nopember 1996 ( kurang lebih  6 bulan lagi dari penetapan sebagai Bakal Jemaat).

Hal-hal yang harus dipersiapkan adalah disamping laporan, konsolidasi kepengurusan dalam kemajelisan (pembentukan Struktur) , penataan/pembenahan administrasi jemaat dan administrasi keuangan, persiapan nama Jemaat, dan peningkatan kualitas pelayanan.

Untuk Struktur kemajelisan, dibentuk seuai dengan struktur yang diatur dalam Tata Gereja GKI di Tanah Papua.

 

Untuk Nama Jemaat, diadakan melalui sayambara yang diikuti seluruh anggota Jemaat.

Hasil sayambara ada 11 (sebelas) nama Jemaat yang diajukan anggota jemaat dan dari 11 nama itu dikaji/disaring oleh Tim menjadi 3 (tiga) nama yaitu : SILOAM, NEHEMIA, dan EFATA.

 Kemudian Majelis menetapkan “SILOAM” menjadi nama jemaat.

 “SILOAM”  artinya “YANG DIUTUS”

Pada Sidang Klasis Sentani yang berlangsung di jemaat IFALE ,  Ketua Klasis Sentani menepati janjinya untuk menetapkan jemaat ini menjadi jemaat penuh dan itulah palu terakhir dari Ketua Klasis Sentani (bapak Grj. dr. J. Manapa) dan setelah itu diadakan pemilihan Ketua Klasis baru. Namun sebelum ditetapkan menjadi jemaat penuh, nama jemaat “SILOAM” telah digunakan oleh Majelis untuk proses administrasi sejak pelaksanaan Sidang Jemaat Pertama pada bulan Juli 1996.

Itulah sekilas tentang proses pembentukan dan pejalanan Jemaat Filial.

 

  1.  Proses dan Pelaksanaan Pelayanan.

Setelah diadakan Peneguhan anggota Majelis Jemaat periode 1994-1998 di Jemaat GKI Petus Waena, maka angota Majelis Lingkungan 10 dan 11 langsung melaksanakan tugas di Jemaat Filial.

Untuk kelangsungan dan tertibnya pelaksanaan pelayanan maka  memilih pimpinan sementara Majelis Jemaat  yang disebut Pimpinan Bersama karena terdiri dari 2 (dua) orang yaitu; Pnt. F.D. Sitorus (Koodinator Majelis Lingkungan 10), dan Pnt. A.J. Tuanakotta (Koordinator Majels Lingkungan 11).

Kepemimpinan Bersama ini berlangsung sampai dengan akhir tahun 1995   ( kurang lebih  1 tahun 9 bulan )     dan   selama   kepemimpinan

 

bersama, pelayanan berjalan baik  berkat adanya kebersamaan anggota Majelis.

Pada masa Kepemimpinan Bersama, seiring dengan  perkembangan jumlah anggota jemaat maka  pada bulan Agustus 1995 diadakan penambahan anggota Majelis yang sebelumnya berjumlah 22 orang menjadi 26 orang.  Namun Struktur Majelis belum belum disusun sebagaimana dalam Tata Gereja GKI di Tanah Papua karena masih dalam Pembinaan Jemaat Induk.

Dalam Raker Klasis GKI Sentani yang dilaksanakan pada tanggal 3 - 4 Mei 1996, Jemaat Filial ditetapkan menjadi Bakal Jemaat.

Untuk memantapkan pelayanan dan untuk meningkatkan fungsi Majelis Jemaat maka pada tanggal 5 Mei 1996 diadakan pembentukan  Stuktur Majelis Jemaat   dengan Struktur yang disesuaikan dengan Tata Gereja GKI di Tanah Papua.

 

Tugas pertama dan mendesak untuk dilakukan oleh PHMJ dan   Majelis Jemaat pada saat itu  adalah :

  1. Berkoordinasi dengan Jemaat Induk (Jemaat GKI Petrus Waena) , bahwa dengan telah ditetapkannya sebagai Bakal Jemaat, maka baik Pelayanan, maupun administrasi surat-menyurat serta  administrasi /pengelolaan keuangan yang selama masa status Filial ditangani oleh Jemaat Induk, akan ditangani langsung oleh Majelis Jemaat Bakal Jemaat Siloam.
  2. Mempersiapkan   pelaksanaan   Sidang  Jemaat  untuk penyusunan program kerja dan program pelayanan, walaupun pada saat itu masih dalam status Bakal Jemaat tapi Sidang Jemaat tetap dilaksanakan.

 

  1. Mempersiapkan laporan jemaat sebagai bahan laporan pada Sidang Klasis yang direncanakan akan berlangsung pada bulan Nopember 1996.
  2.    Mengusulkan  Bapak  Pdt. Y. M.  Setyabudi menjadi Pelayan  Jemaat.

Pada tanggal 12  Juni tahun 1996 diadakan pembentukan Badan Pengurus/Pelayan Unsur-Unsur Jemaat secara kolektif yaitu PKB ,PW, PAM dan Badan Pelayan Sekolah Minggu (BPSM).

Sidang Jemaat Pertama dilaksanakan pada tanggal 29 –30 Juli 1996 yang menghasilkan progam kerja dan program Pelayanan untuk tahun 1996/1997.

Pelaksanaan pelayanan, baik pada masa Filial maupun setelah ditetapkan sebagai Bakal Jemaat dapat berjalan dengan baik atas bantuan Bapak Pdt. Y.M. Styabudi, walaupun tidak ada ijin atau pun rekomendasi  dari  Klasis. Majelis telah  berkali-kali  mengusulkannya ke Klasis GKI Sentani bahkan Majelis meminta advis dari Sinode tapi tidak ada realisasi dan respon sama sekali.

Pelayanan  untuk Ibadah-ibadah Minggu dan Ibadah-ibadah hari-hari besar, Majelis menjadwalkan Pendeta-pendeta yang ada di Klasis Jayapura, Sinode dan STT GKI.

Keadaan seperti ini berlangsung sampai dengan tahun 1998 atau sampai dengan  ditempatkan Pelayan Jemaat  yaitu Pdt. M. M. Poey, STh.

Pada tahun 1997 sampai dengan tahun 1998  tidak ada Sidang Jemaat , karena saat itu situasi dalam tubuh Majelis tidak kondusif, terjadi kubu-kubuan sehingga sangat menggangu pelaksanaan pelayanan.

 

Sidang Jemaat kedua dilaksanakan pada tanggal 20 – 21 Agustus 1999 yang sekaligus merupakan Sidang Kedua.

Dalam Sidang inilah Badan Pekerja Harian Majelis Jemaat mempertanggung jawabkan pelaksanaan tugas untuk 3 (tiga)  tahun ( 1996/1997, 1997/1998 dan 1998/1999).

Pada akhir tahun 1999, dilaksanakan Pemilihan anggota Majelis baru untuk periode 2000-2004.

Pemilihan saat itu memang penuh dengan rekayasa karena tidak ada satu orang pun dari anggota Majelis yang lama yang terpilih. Jadi semua anggota Majelis Peiode 2000-2004 adalah orang-orang baru.

 

Tidak  lama kemudian atau  1 (satu) tahun setelah peneguhan yaitu pada bulan Nopember 2001 terjadi perseteruan antara Anggota Majelis dengan Pelayan Jemaat Pdt. M.M. Poey. STh.  Yang sebagai puncak dari perseteruan itu sebagian besar anggota Majelis (90%) secara serentak mengundurkan diri di depan anggota Jemaat pada saat Ibadah Minggu serta menuntut agar Pdt. M.M.Poey juga diberhentikan. Dan yang lebih seru lagi, setelah selesai ibadah minggu semua anggota Majelis yang mengundurkan diri tadi berbaris disepanjang halaman gedung gereja untuk bersalaman dengan anggota jemaat dan sekaligus  untuk menarik simpati serta dukungan anggota jemaat.

Kemudian Badan Pekerja Klasis Sentani mengambil alih pelayanan di Jemaat Sloam dan untuk mengakhiri tugas Majelis periode 2000 -2004 serta Pelayan Jemaat, maka dilaksanakan Sidang Istemewa sekaligus merencanakan pemilihan anggota Majelis baru.

 

Hasil Sidang Istimewa  memutuskan memberhentikan Pdt. M.M. Poey, STh. Sebagai Pelayan Jemaat dan membentuk sebuah Tim untuk perekrutan anggota Majelis Baru.

Mengingat waktu perayaan HUT Jemaat dan perayaan Natal serta  Tahun Baru saat itu sudah sangat dekat maka pemilihan anggota Majelis dilaksanakan dengan mendatangi anggota Jemaat ke rumah-rumah oleh sebuah Tim yang dibentuk oleh Badan Pekerjas Klasis.

Dalam waktu singkat, Tim tersebut berhasil menjaring hampir 45 orang namun   pada saat minggu terahir sebelum peneguhan banyak calon yang mengundurkan diri dengan berbagai alasan dan hanya sisa 18 orang yang tetap bertahan ditambah dengan 4 orang anggota Majelis yang tidak ikut mengundurkan diri.

Peneguhan anggota Majelis tersebut dilaksanakan pada tangal 12 Nopember 2001 oleh Ketua Klasis GKI Sentani Pdt. Y. Parru, STh. untuk periode 2001-2006.

Dari hasil pemilihan maka terbentuk Struktur Majelis  sebagai berikut :

KETUA   : -

Wakil Ketua          : Pnt. F. D. Sitorus

Sekretaris              : Pnt. Godlief Mansi

Wakil Seketaris   : Pnt. A. Walukouw

Bendahara           : Syms. C. Manputty

 

Diawal pelaksanaan tugas Majelis ini, Majelis diperhadapkan pada tugas berat, karena disamping tugas-tugas menjelang HUT Jemaat dan perayaan Natal, juga harus berusaha untuk menciptakan kembali suasana yang harmonis  terutama anggota jemaat dan Panitia Pembangunan yang sempat terpengaruh dengan sikap dari Anggota Majelis lama dan juga ketenagan bagi anggota Majelis baru untuk melaksanakan tugas.

 

Mengingat wilayah pelayanan Jemaat Siloam yang cukup luas dan jumlah anggota jemaat   yang   sudah   semakin banyak maka pada bulan Maret 2002 diadakan penambahan anggota Majelis sebanyak 28 orang sehingga jumlah anggota Majelis menjadi 50 orang.

Dengan adanya penambahan anggota Majelis Jemaat , maka terjadi pula perubahan struktur baik keanggotaan BPHM maupun Urusan-Urusan.

 

Dengan berakhirnya masa tugas Anggota Majelis periode 2001-2006, maka pada bulan Mei 2006 diadakan pemilihan anggota Majelis yang baru untuk periode 2006-2011 dan terpilih anggota Majelis sebanyak 51 orang dan diteguhkan pada bulan Juli 2006.

 

  1. Pembangunan Gedung Gereja

Gedung Gereja yang dibangun pada saat pendirian Jemaat Filial hanya berukuran 7 m x 15 m dan pada tahun 1996 dikembangkan kesamping kanan  4 m dan samping kiri 4 m sehingga luas gedung Gereja menjadi 15 m sementara panjang tetap 15 m hanya teras depan yang dapat ditambah karena batas tanah.

Dengan perkembangan jumlah anggota Jemaat yang terus terjadi maka pada  tahun 1996 juga dibentuk Panitia Pembangunan Gedung Gereja untuk membangun Gedung Gereja yang mampu menampung kurang lebih 800 orang. 

 

Pada saat itu Panitia Pembangunan telah bekerja   antara  lain :

  1. Gambar gedung Gereja telah selasai dan telah disepakati oleh Majelis Jemaat.

 

  1. Pengukuran dan pematokan telah dilaksanakan  dan penggalian pundasi telah dilaksanakan dengan menggunakan alat berat. Akan tetapi pembangunan tidak dapat dilanjutkan karena ada perbedaan pendapat oleh sebagian anggota Majelis Jemaat yang tidak menghendaki pembongkaran Gedung Gereja lama sementara lahan yang tersedia tidak memungkinkan untuk membangun gedung diluar gedung Gereja lama.

Keadaan ini membuat Panitia Pembangunan tidak dapat melanjutkan pekerjaan sampai selesai masa periode Majelis 1994-2000 .

 Kemudian Majelis Jemaat Periode 2000 – 2004 merevisi/ membentuk kembali keanggotaan Panitia Pembangunan Gedung Gereja.

 

Dengan terbentuknya Panitia Pembangunan ini , maka Panitia Pembangunan kembali membuat gambar baru dan gambar yang lama yang dibuat oleh Panitia Pembangunan lama tidak dipakai lagi.

Pembangunan Gedung Gereja dimulai pada tahun 2001 dan Panitia Pembangunan tidak mengalami hambatan mengenai lahan karena Majelis Jemaat menyerahkan sepenuhnya kepada Panitia Pembangunan.

Pembangunan Gedung Gereja berjalan lancar tanpa mengalami hambatan yang berarti walaupun sementara  pembangunan  sedang berlangsung, terjadi pergantian anggota Majelis pada bulan Nopember 2001 karena Anggota Majelis Periode 2000-2004 mengundurkan diri. Hal ini dapat terlaksana atas kesadaran dan kesungguhan serta komitmen dari Panitia Pembangunan dan seluruh anggota Jemaat yang begitu antusias untuk memiliki Gedung Gereja yang permanen.

Walaupun suasana yang terjadi akibat pengunduran diri para anggota Majelis   saat   itu    sempat    mempengaruhi , baik  Panitia   Pembangunan

 

maupun anggota Jemaat  . Akan tetapi anggota Majelis baru secara perlahan dapat memulihkan situasi sehingga semua dapat bersatu kembali.

Gedung Gereja selesai dibangun pada tahun 2005 dan diresmikan penggunaannya pada tanggal 4 Desember 2005 oleh Bapak Gubernr Provinsi Papua Drs. J. P. Solosa dan didampingi oleh Ketua Sinode GKI di Tanah Papua Bapak Pdt. Herman Saud, STh.

 

  1. Pembangunan Rumah Pastori

Rumah Pastori dimulai pembangunannya pada tahun 2010  yang ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Pdt. Hiskia Rollo, S.Th dengan ukuran 8m  x 10m diatas tanah seluas 10 m  x 15 m dan selesai dibangun pada bulan Oktober 2010 yang ditandai dengan peresmian yang dipimpin oleh Pdt. Clemens Modouw, S.Th.

 

  1. Pembangunan Gedung Serba Guna

Pembangunan Gedung Serba Guna (GSG) yang dari awal perencanaan dengan konstruksi 3 (tiga) lantai diatas tanah seluas 23 m x 27 m dengan ukuran bangunan 22 m x 21 m ,

Rencana Anggaran Biaya Pembangunan adalah sebesar Rp. 4.676.900.000,- Pembangunan dimulai  pada bulan April 2012 yang ditandai dengan penghancuran Rumah Pastori lama dan peletakan Batu Pertama oleh Pdt. Clemens Modouw.

 

Untuk biaya Pembangunan Gedung Serba Guna 90% adalah swadaya anggota jemaat dan sisanya bersumber dari bantuan Pemerintah Provinsi Papua.

 

Pembangunan Gedung Serba Guna saat ini sudah dalam tahap Finishing dan direncanakan peresmian akan dilaksanakan pada tahun 2018 ini.

 

  1.    Penempatan Pelayan Jemaat

Sejak dibentuknya Jemaat Filial sampai dengan bulan Oktober 1998, pelayanan ditangani langsung oleh Majelis Jemaat dengan dibantu oleh Bapak  Pdt. Y. M. Setyabudi.

Setelah ditetapkan sebagai Bakal Jemaat, Majelis Jemaat mengusulkan Bapk. Pdt. Y. M. Setyabudi sebagai Pelayan Jemaat tapi tidak ditanggapi oleh Klasis GKI Sentani, justru Klasis Sentani menempatkan Bapak Pdt. Rumbiak . STh. Sebagai Pelayan Jemaat yang waku itu beliau sebagai Sekretaris Klasis GKI Sentani dan sudah di SK kan . Anggota Majelis waktu itu menginginkan adanya penjelasan tentang status Pdt. Y. M. Setyabudi tetapi Klasis tidak dapat memberikan penjelasan. Sehingga Anggota Majelis menolak penempatan Pdt. Rumbiak STh sebagai Pelayan di Jemaat Siloam. Memang pada saat itu jumlah Pendeta di Klasis Sentani hanya 14 orang sementara jumlah Jemaat ada 44 Jemaat. Sehingga Klasis mengalami kesulitan untuk penempatan Pendeta/Pelayan.

Sejak ditetapkan sebagai Jemaat penuh, Majelis telah berusaha sebisa mungkin agar ada penempatan Pelayan Jemaat, tapi sampai bulan Desember  1997 tidak ada realisasi dari Klasis.

Dengan melihat  keadaan seperti itu, penulis meminta daftar  Pendeta-Pendeta   yang  ada  di  Klasis  Sentani   dari  Klasis  kemudian  penulis meminta  Klasis untuk   menerbitkan   SK untuk  Pdt. M. M. Poey, STh yang   pada   saat  itu   masih   aktif  sebagai  Pelayan di Ifar Gunung dan

 

terbitnya SK penempatan tersebut tidak diketahui oleh Pdt. M. M. Poey, STh. 

Walaupun pada awalnya beliau tidak menerima atau keberatan dengan SK itu tapi beliau  mengatakan kesiapannya untuk menjadi Pelayan di Jemaat Siloam Waena.

Pdt M. M. Poey, STh secara resmi melaksanakan tugas di Jemaat Siloam Waena  mulai tanggal 15 Maret 1998 dan sebagai Pelayan Jemaat pertama di Jemaat Siloam Waena yang ditandai dengan Serah Terima Jabatan dengan Pnt. F. D. Sitorus yang disaksikan oleh Sekretaris Klasis Sentani Pdt. W. Rumbiak, STh.

Kemudian dengan diberhentikannya Pdt. M. M. Poey, STh sebagai Pelayan Jemaat Siloam Waena pada bulan Nopember 2001, maka Majelis  kembali mengurus penempatan Pelayan dan situasinya sama dengan pengurusan Pelayan I (Pdt. M. M. Poey,STh) dan pada bulan Maret 2002 BP Klasis menempatkan Pdt. M. M. Afasedanya, STh sebagai Pelayan Jemaat  dan bertugas di Jemaat Siloam sampai dengan tanggal 7 Oktober 2007.

 

 Pada bulan Oktober 2007 penempatan  Pdt. Clemens Modouw, S.Th.  Kemudian oleh sayang Tuhan,  pada bulan Maret 2014, Pdt. Clemens Modouw dipanggil Tuhan (meninggal dunia) dan hampir 1 tahun kemudian atau tepatnya tanggal 17 Mei 2015 baru ada penempatan Pendeta yaitu Pdt. Olga Theresia Pundoko/Tuflasa, S.Th yang bertugas sampai dengan tanggal, 08 April  2018.

 

  1. Perkembangan Jemaat
  2.      Perkembangan anggota Jemaat

Pada saat peresmian gedung Gereja Filial yang sekaligus ibadah pertama di jemaat Filial pada tanggal 5 Desember 1993, jumah anggota jemaat adalah sebanyak 150 orang . Pada akhir tahun 1994 meningkat menjadi 250 orang dan pada bulan Juli 1996 meningkat menjadi 370 orang (masih dalam status Bakal Jemaat) . Data ini diambil dari kehadiran pada ibadah-ibadah minggu karena saat itu belum dilaksanakan pendataan berdasarkan keluarga.

Pada bulan Agustus 1998 berkembang menjadi 781 orang (200 KK).

Pada akhir tahun 2007 berkembang pula menjadi 1.202 jiwa (312 KK)

Data terakhir jumlah anggota jemaat dengan pendataan yang dilakukan pada bulan Desember 2018 adalah sebanyak  1.539 jiwa ( 352 KK)

  1. Perkembangan Wilayah Pelayanan

Wilayah Pelayanan Jemaat Siloam adalah mulai dari Kompleks Youtefa Grand, Jalan SPG,  Jalan Proyek Karsa Tama, Perumnas II dan sekitarnya, Perumnas III dan sekitarnya, Kompleks Peumahan Dosen Uncen (seberang kali) , sepanjang jalan Kamp Wolker, Kampung Pokhouw Seberang kali), Perumnas III dan sekitarnya, Perumahan Dosen Uncen Perumnas II.

Berhubung pada saat berdirinya Jemaat Filial, belum ada bangunan di luar Perumnas maka pelayanan hanya terfous pada 3 (tiga) lokasi yaitu Perumnas II dan sekitarnya, Perumnas III dan kampung Pokhou (Seberang kali yang dibagi dalam 2(dua) Lingkungan yaitu :

 

  1. 1. Lingkungan 1 : Perumnas II dan sekitarnya
  2. 2. Lingkungan 2A : Perumnas III dan sekitarnya
  3. 3. Lingkungan 2B : Kampung Pokouw(seberang kali)

Pada tahun 1997 dilakukan penataan/pemekaran Lingkungan menjadi 4 Wilayah Pelayanan (WIPEL) dengan pembagian sebagai berikut :

Wipel 1 :  Meliputi sebagian Perumnas II ( Gang Matoa, Gang Ulin, dan Jalan Beringin), Kompleks Karsa Tama , Sebagian jalan Kamp Wolker, Belakang PLTD, dengan batas jln. Kenanga menuju Proyek Karsatama.

            Wipel 2 :  meliputi   sebagian   Perumnas  II   (seluruh Gang Jati) dengan   batas wilayah pelayanan yaitu jalan masuk dari depan Toko Mandiri .

           Wipel 3 :  meliputi   Kompleks   gereja,   kompleks   JJDF, seberang Kali,  Kompleks Uncen, dan sebagian Perumnas III dengan batas jalan SMP menuju lapangan Volly.

           Wipel 4 : Meliputi   Gang Deho,    Gang Bubara,  sebagian  Jalan Cenderawasih mulai dari jalan SMP menuju RSS.

 

Seiring dengan pesatnya pembangunan dan pertumbuhan penduduk di wilayah pelayanan Jemaat Siloam Waena secara terus menerus baik pembangunan perumahan seperti Youtefa Grand, Perumahan Dosen Uncen   diseberang   kali, pertokoan  di  sepanjang  jalan mulai dari SPG sampai di putaran Perumnas III, maka Wilayah Pelayanan Jemaat Siloam semakin padat sehingga tidak lagi terfokus hanya pada lokasi-lokasi tertentu.

 

Dengan keadaan yang demikian, maka pada tahun 1998 diadakan lagi  penataan/pemekaran Lingkungan menjadi

      7 (tujuh) Lingkungan dengan pembagian sebagai berikut :

  • 1. Lingkungan I : Meliputi Perumahan Youtefa Grand, Kompleks SMU Taruna Bhakti, Kompleks Karsa Tama, dan sebagian Perumnas II (seluruh Gang Matoa dengan batas Jalan Beringin).
  • 2. Lingkungan II : meliputi sebagian Perumnas II (Gang Jati 1-9), Belakang Mesjid, sebagian Jalan Kenanga, dan Perumahan Dosen Uncen seberang kali.
  • 3. Lingkungan III : meliputi sebagian Perumnas II ( Gang Ulin 1-3 dengan batas jalan Kenanga dan Jalan Beringin dan sebagian Jalan Kamp Wolker), Kompleks pemukiman samping PLTD (jln. CNI), Kompleks Gereja , dan sepanjang Jalan Kamp Wolker dengan batas tikungan ke Perumnas III.
  • 4. Lingkungan IV : meliputi Jl. Kamp Wolker sampai putaran taxi Perumnas III , Jl. Masuk gereja Siloam, Kompleks Perumahan Griya Lestari, Ex Benteng Mas, berbatasan dengan Lingkungan II di sebelah selatan dan Jemaat Eden Pokowu di sebelah Utara.
  • 5. Lingkungan V : meliputi sebagian Perumnas III (Jl. Cenderawasih, Gang Tenggiri, Jl. Kakatua, Gang Deho 2, dan Kompleks Perumahan Dosen Uncen Ottow Wospakrik)
  • 6. Lingkungan VI, meliputi sebagian Perumnas III (Gang Deho 3-8, Gang Kakap, sebagian Jl. Cenderawasih, Jl. Rajawali, Jl. Mambruk, dan Jl. Kasuari)
  • 7. Lingkungan VII, sebagian Perumnas III dan sekitarnya (Kampung Jawa, gang Bubara 1-9 dan sebagian jl. Kasuari)

 

  1. PENUTUP

  Penyusunan Sejarah Jemaat GKI Siloam ini telah dilakukan dalam 3 (tiga) edisi yaitu : edisi pertama, tahun 1993 – 2001, edisi kedua, tahun 2001 – 2011, dan edisi ketiga, tahun 2011 – 2018 yang telah digabungkan dalam narasi sesuai topic yang diceritakan atau disajikan dalam penulisan.

Penulis mengharapkan agar Sejarah Jemaat GKI Siloam ini dapat dijadikan sebagai informasi yang sah dan menjadi milik Gereja, maka sangat     diperlukan     adanya    pengesahan   melalui   seminar   yang

kemudian hasilnya diajukan dalam Sidang Jemaat ke-21 tahun 2019 ini.

 Dengan demikian pada tahun-tahun selanjutnya dapat diteruskan oleh para Presbyter dalam edisi-edisi selanjutnya.

Demikian penulisan Sejarah Jemaat GKI Siloam ini disajikn untuk menjadi bahan pembahasan dan penetapannya. Tuhan Yesus Kristus memberkati .

HARI - HARI BERSEJARAH JEMAAT GKI SILOAM WAENA

Tanggal Deskripsi
5 September 1993 Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung Gereja Filial
5 Oktober 1993 Dimulainya Pembangunan Gedung Gereja Filial
5 Desember 1993 Peresmian Gedung Gereja Filial dan Ibadah Pertama di Jemaat Filial
4 Mei 1996 Penetapan Sebagai Bakal Jemaat dalam Raker Klasis GKI Sentani di Yahim
5 Mei 1996 Pembenahan Struktur Majelis Jemaat yang Disesuai dengan Tata Gereja GKI di Tanah Papua
12 Juni 1996 Pembentukan Struktur Badan Pelayan Unsur-Unsur Jemaat (PAM, PAR, PW, PKB) Secara Kolektif
26-27 Juli 1996 Sidang Jemaat Pertama Jemaat Siloam (masih dalam status Bakal Jemaat)
26 November 1996 Penetapan Sebagai Jemaat Penuh dalam Sidang Klasis GKI Sentani di Jemaat Ifale
5 Desember 1996 Pengucapan Syukur atas Ditetapkannya Menjadi Jemaat Penuh dan Perayaan HUT Jemaat Pertama

PENJELASAN TENTANG PENETAPAN HARI ULANG TAHUN
(HUT)JEMAAT GKI SILOAM WAENA

 

Berhubung adanya perbedaan HUT Jemaat dengan HUT Unsur-unsur Jemaat,  dimana HUT Unsur-unsur Jemaat lebih dulu dirayakan yaitu sesuai dengan pembentukannya tanggal 12 Juni 1996 sementara HUT Jemaat disepakati   tanggal 05 Desember 1996 sebagai HUT Pertama.

 

Penetapan tangal 05 Desember 1996 sebagai HUT Pertama Jemaat GKI Siloam adalah juga sebagai hari Pengucapan syukur Jemaat atas ditetapkannya Bakal Jemaat GKI Siloam menjadi jemaat definitife dalam Sidang Klasis GKI Sentani pada tanggal 26 Nopember 1996 di Jemaat Petra Ifale.               

 

Jika melihat dari penetapan sebagai jemaat definitive yaitu tanggal 26 Nopember 1996, maka tanggal 05 Desember 1996  dihitung 0 (nol) tahun. Namun karena sejak ditetapkannya Jemaat Filial (Filial dari Jemaat GKI Petrus Waena) menjadi Bakal Jemaat dalam Raker Klasis GKI Sentani di Jemaat Yahim tanggal 5 Mei 1996, maka pada tanggal 5 Mei 1996 Majelis Jemaat mengadakan rapat pembentukan Struktur Majelis, kemudian pada tanggal 12 Juni 1996 Majelis Jemaat  membentuk  Unsur-unsur Jemaat yaitu PAR, PAM, PW, dan PKB secara Kolektif. Hal ini dimaksudkan untuk persiapan pelaksanaan Sidang Jemaat.

 

 

Sidang Jemaat harus segera dilaksanakan karena hubungan Bakal Jemaat  dengan Jemaat induk saat itu kurang harmonis dan itu sudah terjadi sejak terbentuknya jemaat Filial.

Setelah struktur Majelis dan Unsur-unsur Jemaat terbentuk dan juga persiapan- persiapan lainnya, maka pada tanggal 27 – 28 Juli 1996  dilaksanakan Sidang Jemaat yang disebut sebagai Sidang Jemaat I.

 Jadi pada masa Bakal Jemaat telah melaksanakan Sidang Jemaat walaupun dalam aturan atau dalam Tata Gereja belum diperbolehkan.

 

Sidang Jemaat Pertama ini pun tidak dihadiri oleh Badan Pekerja Klsis dan Pelayan Jemaat pun belum ada pada saat itu sehingga kami meminta bantuan Bapak Pendeta Y. M. Setyabudi untuk mendampingi BPHMJ untuk memimpin Sidang Jemaat.

 

Kami sadar bahwa apa yang kami lakukan dalam mengelola pelayanan baik semasa Filial maupun semasa Bakal Jemaat bahkan sampai dengan tahun 1998 (2 tahun setelah ditetapkan sebagai Jemaat definitive) sebagai tindakan-tindakan yang kontropersial tapi begitulah situasi yang terjadi pada masa itu.

 

Jika ingin berpisah dengan jemaat induk harus berseteru dulu dan memang pada masa itu tidak ada/belum ada jemaat filial.

 

Dengan adanya pembentukan Struktur Majelis, pembentukan Unsur-unsur Jemaat dan pelaksanaan Sidang jemaat pada masa/status sebagai Bakal Jemaat membuat perayaan HUT Jemaat dan Unsur-unsur Jemaat tidak sesuai dengan tanggal penetapan sebagai Jemaat definitive dan itu berlangsung sampai dengan tahun 2016.

 

Dengan adanya ketidak sesuaian antara perayaan HUT Jemaat dengan perayaan HUT Unsur-unsur, maka pada Sidang Jemaat tahun 2016 telah diluruskan dan ditetapkan  baik HUT Jemaat maupun Unsur-unsur Jemaat sbb. :

 

  1. a) HUT Jemaat : Tanggal , 05 Bulan    Desember dan untuk  tahun    2016 

                               adalah  Hari Ulang Tahun XX;

  1. b) HUT PKB     : Tanggal, 28   Bulan  Nopember  dan   untuk   tahun  2016

                               adalah Hari Ulang Tahun XIX

  1. c) HUT PW       : Tanggal , 11   Bulan   Juni   dan    untuk      tahun     2016

                               adalah  Hari  Ulang Tahun  XIX

  1. d) HUT PAM : Tanggal    23    September     dan     untuk     tahun   2016

                               adalah  Hari  Ulang  Tahun XIX

  1. e) HUT PAR     : Tanggal ,  08    Bulan    Mei     dan    untuk   tahun    2016

                               adalah   Hari Ulang Tahun XIX

 

Dengan demikian, maka permaslahan kesimpang siuran perayaan HUT dalam Jemaat GKI Siloam Waena telah selesai dan telah dilaksanakan sesuai hasil Sidang Jemaat.